"Mardika!"Seorang peteran berteriak di balik kopiahnya yang lusuh sambil mengibaskan tetesan air mata yang merambat di pipinya.
Warnanya kuning begitu mengkilap kala terpoles oleh cahaya matahari.
Tersimpan baik menutupi uban yang menyimpan jutaan memori di masa lampau.
Sejarah mencatat beliau sebagai orang yang berlari kesana-kemari. Berlari dari pulau ke pulau, hanya untuk memeluk erat kain merah dan putih agar tidak jatuh ke tanah dan sampah.
Beliau mencucinya dengan keringat pedih kala peluru dan bom berusaha memakan kain kebanggaannya.
Menatap dari kursi roda yang setia menemaninya. Sang peteran kembali berperang dalam lamunannya tatkala bambu runcing menjadi tiang bendera di kampungnya.
Kali ini beliau tergugah dengan bertumpu pada tangannya. Dengan sangat gigih, beliau bangun dari strouke-nya, hanya ingin melihat Si Cicit meneruskan perjuangan buyutnya di masa itu.
Si Cicit melirik dengan senyum, kala mengangkat benda kebanggaanya saat juara menghampirinya.
Sang buyut tersenyum pula dan kembali mengusap tetesan air mata sambil berucap dengan pelan:
"Mardika"
Garut, 17 Agustus 2017
Oleh : Yofy Fauzy
0 Response to "Mardika!"
Post a Comment